News Detail
Jasa Pengiriman Barang Raup Untung, Sampai Bisa Ekspansi

indopos.co.id Rabu, 30 September 2020

indopos.co.id – Pandemi COVID-19 mendorong masyarakat untuk lebih banyak melakukan aktivitas bersama keluarga di rumah. Termasuk dalam memenuhi kebutuhan.

Masyarakat lebih memilih belanja online daripada datang langsung ke mal. Hal ini terlihat dari peningkatan transaksi online di sejumlah platform e-commerce.

Strategic Initiatives Senior Lead (Mom Baby & Home Living Category) Tokopedia Rizki Widyastuti mengungkapkan, selama Agustus 2020, kategori Ibu dan Anak di Tokopedia terus mengalami peningkatan signifikan, yaitu hampir 2 kali lipat selama pandemi. Transaksi dibandingkan dengan transaksi bulanan sebelum pandemi.

”Produk perawatan bayi seperti tisu basah, susu formula, popok, dan sabun mandi menjadi beberapa produk di kategori Ibu dan Anak yang paling populer belakangan ini,” ungkapnya. Peningkatan terjadi karena sebelum pandemi, mayoritas orang mungkin lebih banyak yang belanja ke supermarket, bahkan ke minimarket.

Namun, setelah pandemi terjadi perubahan pola belanja bulanan masyarakat. External Communications Senior Lead Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya menambahkan, pertumbuhan tersebut terjadi secara umum di Tokopedia. Dia memberi contoh, makanan siap masak yang mengalami kenaikan tiga kali lipat selama Pandemi COVID-19.

”Dari sisi makanan siap saji pun mengalami peningkatan tiga kali lipat. Begitu juga dengan hobi menaman pun meningkat drastis, tiga kali lipat selama pandemi,” urainya.

Peningkatan transaksi di e-commerce itu ternyata membuat pertumbuhan konsumen untuk jasa logistik. Bahkan sejumlah perusahaan logistik mulai melakukan ekspansi bisnis.

Menurut data dari RedSeer, penggunaan layanan e-commerce selama Pandemi Covid-19 meningkat tajam sebesar 69 persen. Imbasnya, berbagai penyedia jasa logistik di Indonesia turut mencatat kenaikan volume pengiriman barang.

Salah satunya Lion Parcel. ”Volume pengiriman Lion Parcel pada April ke September 2020 meningkat sekitar 30,3 persen dibanding April ke September 2019,” ujar Senior Manager NPOS Lion Parcel Cipto Laksono.

Selain kenaikan volume, jumlah agen atau mitra point of sales (POS) yang bergabung dengan jaringan Lion Parcel pun meningkat secara signifikan hingga dua kali lipat di masa pandemi. Tercatat lebih dari 800 mitra bergabung ke jaringan Lion Parcel setiap bulannya.

Angka ini naik 100 persen dibandingkan kondisi normal sebelum pandemi, dengan rata-rata sebanyak 400 mitra yang bergabung setiap bulannya. ”Antusiasme masyarakat untuk bergabung menjadi mitra Lion Parcel ini menjadi sinyal positif sektor logistik memiliki peluang yang menjanjikan di tengah pandemi ini,” ucapnya optimistis.

Hal yang sama juga diakui PT Krida Jaringan Nusantara (KJN) Tbk. ”Di masa pandemi, banyak muncul startup dan e-commerce kebutuhan pokok seperti sayur dan buah-buahan yang pengirimannya maksimal 2-3 jam. Ini cukup membuat kenaikan signifikan,” ucap Direktur Utama PT KJN Sunarto.

Ditambahkan Komisaris PT KJN Dewi Prasetyaningsih, di masa pandemi tercatat 15 ribu paket dikirimkan pihaknya per bulan. ”Laba bruto kami pun naik 38,59 persen di Q1 2020 jika dibandingkan pada Q1 2019,” terangnya.

Sementara itu, menurut Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldi Ilham Masita, jasa kurir yang dapat bertumbuh di tengah pandemi bahkan melakukan ekspansi sangat bergantung pada produk dan model bisnisnya. Terutama seberapa jauh digitalisasi telah dilaksanakan jasa pengiriman tersebut.

”Perusahan jasa pengiriman yang bisa survive dan bahkan berkembang memang tergantung dengan produk atau model delivery-nya. Apakah cocok dengan perilaku konsumen pada masa pandemi atau tidak. Kesiapan dari sistem perusahaan kurir tersebut apakah sebelum pandemi sudah melakukan digitalisasi di semua lini,” jelasnya.

Dia mencontohkan, perusahaan kurir yang hanya mengandalkan konsumen datang ke counter atau agen akan mulai ditinggalkan para pelanggannya. Pasalnya, saat ini konsumen butuh barang dijemput untuk menghindari kerumunan atau larangan keluar rumah.

Selain itu, ketika proses operasinya masih mengandalkan manual sorting atau penyortiran oleh manusia dan belum melakukan otomasi, perusahaan akan kesulitan karena ada pembatasan jumlah orang di suatu lokasi hanya boleh maksimum kapasitas 50 persen. ”Menurut saya, dalam pandemi ini akan terlihat perusahan logistik mana yang sudah melakukan transformasi digital dan mana yang belum. Saat ini yang belum pasti akan adanya jasa kurir yang tertinggal,” prediksinya.

Kemungkinan adanya jasa kurir yang tertinggal terangnya, karena pasar dari jasa pengiriman juga berkurang akibat melemahnya daya beli masyarakat dan persaingan sangat ketat. ”Perusahaan jasa pengiriman yang sudah melakukan pekerjaan rumahnya untuk melakukan digitalisasi sebelum pandemi bisa memetik hasilnya sekarang,” imbuhnya.

Misalnya saja Ninja Xpress. Country Head Ninja Xpress Ignatius Eric Saputra mengatakan, di masa pandemi ini, bisnis masih tetap berjalan normal dan terus berupaya mempermudah kebutuhan pengiriman barang. Dia berkomitmen untuk menjaga keamanan serta menjalankan protokol kesehatan yang berlaku guna memitigasi peningkatan penyebaran virus Covid-19.

”Terkait dengan rencana ekspansi, tahun ini kami memiliki target dari beberapa sisi bisnis. Pertama, tentunya dari sisi teknologi agar kinerja operasional Ninja Xpress dapat berjalan lebih efisien, efektif, tingkat akurasi pengiriman jauh lebih tinggi,” janjinya.

Selain dari sisi teknologi, pihaknya juga tengah mengembangkan sisi komersial dengan menekankan perannya sebagai mitra dan partner bagi UMKM.

Pihaknya masih optimistis dapat meraup target awal yang telah ditetapkan pada tahun ini dari sisi volume pengiriman hingga empat kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu. Menurut Eric, sejumlah pola kinerja logistik untuk jasa kurir hingga semester pertama tahun ini banyak dipengaruhi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku dalam rangka mengurangi penyebaran COVID-19.

Dia mengatakan, pada semester I/2020, kegiatan jual beli masyarakat di Indonesia bergeser secara daring dan mengubah pola perilaku konsumen. Akibatnya, kinerja mereka sampai awal Mei 2020 telah mengalami pertumbuhan pengiriman barang sebanyak 2 kali lipat dibandingkan dengan keadaan sebelum pandemi. ”Secara bisnis, kami masih optimistis dengan pertumbuhan yang ditargetkan sebelumnya. Kami menargetkan empat kali lipat lebih tinggi dari tahun lalu (year on year growth),”  jelasnya.

 

 

Paket Ekspres Tertunda PSBB

Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik (Asperindo) mengungkapkan, walaupun hampir seluruh aktivitas investasi dan ekspansi bisnis jasa pengiriman ekspres tertunda karena Pandemi COVID-19, tetap ada sejumlah perusahaan jasa kurir yang melakukan ekspansi.

Ketua DPP Asperindo Mohammad Feriadi mengatakan, jasa pengiriman ekspres sangat dibutuhkan masyarakat di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah DKI Jakarta terutama. ”Menurut pandangan kami ini ekspansi di tengah mode survival sangat positif mengingat jasa pengiriman memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat saat PSBB. Perekonomian harus tetap berjalan dan jasa pengiriman ada dalam ekosistem,” tuturnya.

Adapun pertumbuhan sektor jasa pengiriman ekspres menjadi tak terhindarkan pasalnya, 60 persen aktivitas jasa kurir berkutat di Jabodetabek. Dengan dibatasinya mobilitas orang, mobilitas barang menjadi lebih tinggi dan secara akumulatif aktivitas jasa kurir pun meningkat

Berdasarkan model bisnisnya, lanjutnya, bagi perusahaan yang melayani kiriman antara pelanggan ke pelanggan (C to C) dan bisnis ke pelanggan (B to C) aktivitas pengiriman masih dapat bertahan dan cenderung tumbuh tipis. Namun, bagi perusahaan jasa kurir yang model bisnisnya melayani pengiriman bisnis ke bisnis (B to B) atau pemerintah ke pemerintah (G to G) ada kecenderungan merosot tajam.

”Ini kelihatannya industri-industri mulai mengurangi aktivitasnya, mungkin produksi menurun. Tentu distribusi yang dilakukan anggota Asperindo mengalami penurunan,” ujarnya.

Adapun bagi perusahaan jasa kurir yang basisnya C to C atau B to C masih tetap mengalami pertumbuhan karena adanya pergeseran budaya belanja dari offline ke online. Dengan demikian, banyak yang memilih belanja online untuk kebutuhan seperti makanan, dan kesehatan, sehingga berpengaruh menambah volume jasa pengiriman. (dew)

 

Sumber:

https://indopos.co.id/read/2020/09/30/255185/jasa-pengiriman-barang-raup-untung-sampai-bisa-ekspansi/

 


Back to List

25 Nov 2020

Distribusi Vaksin Covid-19 Dimonopoli BUMN, Cuan Swasta Minim

Rinaldi Mohammad Azka, Bisnis.com, Selasa, 24 November 2020

23 Nov 2020

Industri Logistik Bangkit 2021

Sanya Dinda, Investor.id, Minggu 22 November 2020

19 Nov 2020

Protes Tarif Sandar Kapal Bakal Naik, Pengusaha Anggap Menhub Gagal  

Francisca Christy Rosana, Tempo.co, Rabu 18 November 2020

19 Nov 2020

Pelaku Usaha Logistik Tolak Rencana Kenaikan Biaya Sandar Kapal

Rinaldi Mohammad Azka, Bisnis.com, Selasa, 17 November 2020

12 Nov 2020

Bandara Soekarno Hatta Lumpuh 8 Jam Buat Pengusaha Rugi Miliaran Rupiah  

Khoirul Ma’ruf, Pikiran-rakyat.com, Rabu 11 November 2020

12 Nov 2020

Pengusaha Logistik Rugi Rp10 Miliar Terdampak Kerumunan Simpatisan Rizieq Shihab

Tira Santia, Merdeka.com, Rabu 11 November 2020

11 Nov 2020

Imbas Macet-Delay, Pengiriman Barang Lewat Bandara Soetta Telat Sehari

Detik.com, Selasa 10 November 2020

11 Nov 2020

Pengusaha Logistik Rugi Miliaran Rupiah, Imbas Penjemputan Habib Rizieq Buat Pengiriman Ngaret

Gilang Pranajasakti, Pikiran-rakyat.com, Selasa 10 November 2020

09 Nov 2020

Ini dua sektor bisnis yang tumbuh pesat di kuartal III-2020

Muhammad Julian, Kontan.co.id, Senin 09 November 2020

Copyright © 2015 Asosiasi Logistik Indonesia. All Rights Reserved