News Detail
Menakar Dampak ke RI Akibat Macet di Terusan Suez

Herdi Alif Al Hikam, Detik.com, Senin 29 Maret 2021

Jakarta - Sebuah kapal tersangkut di kanal terusan Suez, Mesir. Kapal raksasa seukuran 4 kali lapangan bola yang akhirnya bikin macet ini membuat geger dunia. Bagaimana tidak, terusan Suez adalah lintasan distribusi logistik yang cukup sibuk.

Lalu seberapa besar dampak dari macetnya terusan Suez ke Indonesia?

Pengusaha pelayaran mengatakan macetnya kanal Terusan Suez di Mesir usai adanya kapal raksasa yang tersangkut dapat mengganggu arus ekspor impor dari dan menuju Indonesia. Khususnya, arus ekspor impor dengan kawasan Eropa.

Ketua umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan meski impor dari Eropa hanya 8,5% saja jumlahnya namun ada beberapa komoditas penting yang kemungkinan akan mengalami keterlambatan.

Carmelita menjelaskan komoditas itu mulai dari mesin mekanik, kimia organik, kelistrikan, plastik, besi baja, hingga komponen kendaraan.

"Walaupun impor Indonesia dari Eropa hanya sekitar 8,5%, tapi cukup mengganggu juga akibat keterlambatan barang impor ini. Seperti barang-barang mesin mekanik, kimia organik, kelistrikan, plastik, besi baja, komponen kendaraan, dan lain-lain," ujar Carmelita kepada detikcom, Minggu (28/3/2021).

Carmelita sendiri menyebutkan sejauh ini tidak ada laporan kapal layar berbendera Indonesia yang ikut kena macet di Terusan Suez. Dia menjelaskan tak ada kapal nasional yang memiliki rite ke Eropa.

"Kalau pelayaran nasional, tidak ada laporan ikut bermacet-macet di sana. Karena kapal nasional kita tidak ada yang line ke Eropa," ungkap Carmelita.

Sementara itu, menurut Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Masita pengaruh dari kejadian tersangkutnya kapal di Terusan Suez tidak terlalu signifikan.

Pasalnya, menurut Zaldy selama ini tidak banyak kapal kontainer yang mengangkut barang dari Indonesia yang berlayar melalui Terusan Suez. Dia menjelaskan biasanya kapal yang menuju Eropa melewati Terusan Suez.

"Kalau container ekspor atau impor Indonesia dari Eropa atau tujuan Eropa sudah pasti ada (yang mengalami kemacetan), tapi secara presentasi sangat kecil dibandingkan total ekspor-impor container Indonesia untuk kawasan lain," kata Zaldy kepada detikcom.

Terlebih lagi, Zaldy menilai saat ini ada masalah kekurangan kontainer yang terjadi di Indonesia. Maka dari itu dia menilai tak banyak dampak yang ditimbulkan dari masalah kemacetan kapal di Terusan Suez.

"Sampai sekarang pun masih ada masalah kekurangan container untuk tujuan Eropa dan dari Eropa. Jadi dampaknya untuk Indonesia tidak signifikan dengan masalah di terusan Suez," ujar Zaldy.

Pengamat sendiri mengatakan bisa saja macetnya terusan Suez membuat biaya logistik Indonesia naik. Bagaimana caranya?

Pakar Maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Saut Gurning menyatakan dampak yang bisa terjadi pada kemacetan di Terusan Suez terhadap pelayaran di Indonesia adalah adanya potensi delay atau keterlambatan dari jadwal pelayaran.

Keterlambatan itu bisa membuat adanya biaya tambahan operasional kapal-kapal yang berlayar. Apalagi bila mengambil opsi re-route melewati jalur tradisional yang mengitari Afrika.

"Dampak delay, antrean, dan reroute tentu berpotensi mendorong naiknya ongkos operasional kapal yang biasanya akan berlanjut pada notifikasi additional surcharges yang akan dibebankan kepada pemilik barang," ungkap Saut.

Namun itu masih potensi, soal dampaknya langsung ke biaya pelayaran dan ke harga komoditas, menurutnya pelaku usaha mungkin masih melihat dan menunggu kondisi dari evakuasi kapal yang tersangkut di Terusan Suez.

"Banyak pihak sedang mengambil sikap wait and see dan memang belum juga memberikan adaptasi komersial sebagai dampak terhalangnya terusan maritim yang menangani 12% laluan perdagangan barang dunia lewat itu," ujar Saut.

Dia mengatakan ekspektasinya minggu depan Terusan Suez dapat normal kembali sehingga semuanya dapat kembali seperti biasanya.

"Dampak keterlambatan mungkin dapat dikompensasi dengan percepatan waktu layar dan waktu bongkar-muat di pelabuhan tujuan atau asal barang," kata Saut

Sebelumnya, kapal kontainer raksasa sepanjang empat lapangan sepak bola dengan lebar 59 meter yang bernama Ever Given tersangkut di Terusan Suez, Mesir. Kapal itu memblokir salah satu rute perdagangan tersibuk di dunia.

Pakar sejarah maritim, Sal Mercogliano kerugian akibat kemacetan yang disebabkan oleh kapal kargo raksasa ini mencapai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 43 triliun per hari.

"Organisasi konferensi pengapalan internasional, ISC, mengatakan kerugian akibat kemacetan di Terusan Suez bisa mencapai US$3 miliar per hari," kata Mercogliano, dalam wawancara dengan BBC World Service, hari Kamis (25/03/2021).

 

Sumber:

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5511661/menakar-dampak-ke-ri-akibat-macet-di-terusan-suez

 

 


Back to List

14 Jun 2021

Gara-gara Preman, Pengusaha Terpaksa Melegalkan Pungli

Vento Saudale, beritasatu.com, Minggu 13 Juni 2021

14 Jun 2021

Pengusaha: Pungli di Tanjung Priok Sudah Terjadi Sejak Lama

Emir Yanwardhana, Cnbcindonesia.com, Jumat 11 Juni 2021

14 Jun 2021

Kacau! Pungli Mendarah Daging, Pengusaha Sentil Satgas Pungli

Emir Yanwardhana, Cnbcindonesia.com, Jumat 11 Juni 2021

10 Jun 2021

Pak Jokowi! Ada Masalah Serius yang Hambat Ekspor RI Nih

Emir Yanwardhana, Cnbcindonesia.com, Selasa 8 Juni 2021

08 Jun 2021

Masyarakat hingga Pemda Keluhkan Banyaknya Truk ODOL

Liputan6.com, Senin 7 Juni 2021

08 Jun 2021

Transportasi Pengaruhi Biaya Logistik hingga 40 Persen

Rahmi Yati, Bisnis.com, Senin 7 Juni 2021

08 Jun 2021

Eksportir Teriak, Kenaikan Biaya Angkut Kontainer Gila-Gilaan

Emir Yanwardhana, Cnbcindonesia.com, Senin 7 Juni 2021

19 May 2021

Kalangan Usaha yang Tak Mampu Gelar Vaksinasi Gotong Royong Butuh Solusi

Hendriyo Widi, Kompas.com, Selasa 18 Mei 2021

18 May 2021

ALI: SNI Palet Umum Penting untuk Logistik Indonesia

Rahmi Yati, Bisnis.com, Senin 17 Mei 2021

18 May 2021

Tak Terpengaruh Larangan Mudik, Arus Logistik Melonjak Hingga 60 Persen

Athika Rahma, Liputan6.com, Minggu 16 Mei 2021

Copyright © 2015 Asosiasi Logistik Indonesia. All Rights Reserved