News Detail
Bisnis Rumahan yang Muncul Akibat Pandemi Kerek Demand Jasa Pengiriman

Jawapos.com, Senin, 17 Agustus 2020

JawaPos.com – Mobilitas masyarakat yang terbatas membuat tren pengiriman barang meningkat. Tantangannya adalah memaksimalkan akses transportasi antarkota atau antardaerah. Kendati pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah berkurang, mobilitas masyarakat belum kembali normal.

Perusahaan logistik PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) mengantisipasi perubahan perilaku konsumen selama masa pandemi. Vice President of Marketing JNE Eri Palgunadi mengatakan bahwa PSBB memang membuat bisnis JNE lebih menantang.

Sebab, sejumlah titik akses mobilisasi masyarakat tutup. Terutama bandara. “JNE juga sempat menutup sementara layanan JNE Yes ke beberapa destinasi karena Covid-19,” ujar Eri.

Untuk mengatasi kendala tersebut, kata dia, JNE mengoptimalkan semua jalur distribusi yang tidak terdampak PSBB. Baik darat, udara, maupun laut. Eri menambahkan, banyaknya masyarakat yang lebih sering menghabiskan waktu di rumah membuat demand pengiriman paket meningkat. Per hari, rata-rata peningkatannya sampai 30 persen.

Tren yang sama dialami perusahaan pengiriman barang yang lain. Yakni, SiCepat. Chief Marketing Officer SiCepat Wiwin Dewi Herawati mengakui bahwa tantangan yang dialami selama pandemi adalah PSBB.

Ada beberapa segmen yang mengalami penurunan pendapatan. Tapi, di sisi lain, SiCepat juga merasakan pertumbuhan pendapatan yang pesat.

Untuk menyeimbangkan bisnis, SiCepat menerapkan strategi pemasaran yang tepat. Juga, yang berdampak positif bagi mitranya. “Strategi yang kami lakukan selalu berpegang pada prinsip return and investment,” ujar Wiwin.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) Mohamad Feriadi menjelaskan, tantangan yang dihadapi anggotanya berbeda-beda. Sebab, mereka menerapkan pola bisnis yang beragam. Untuk perusahaan pengiriman yang melayani B to B dan B to G, kinerjanya menurun.

Di pihak lain, Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Jatim Ivy Kamadjaja mengatakan, secara global, kinerja logistik selama pandemi Covid-19 ini turun. Misalnya, kereta kontainer mengalami penurunan 15 persen di tengah persebaran virus SARS-CoV-2 ini.

“Kemudian, pihak KAI juga masih kesulitan untuk bersaing dengan moda transportasi lain dalam angkutan jasa logistik. Sebab, tarif perseroan untuk mengangkut logistik lebih besar karena ada track access charge (TAC) dan PPN 10 persen,” tegasnya.

Terpisah, Ketua Asperindo Jatim Ardito Soepomo menjelaskan, sampai akhir 2020 nanti, pihaknya memprediksi kinerja industri pengiriman Jatim tetap bisa tumbuh meskipun tipis. Yaitu, sekitar 5 persen.

Menurut Ardito, selama Covid-19 ini, sektor yang menjadi tulang punggung industri jasa pengiriman Jatim adalah UKM. Kontribusinya meningkat. Dari yang awalnya 30 persen saat sebelum korona kini menjadi 50 persen. Penyebabnya, saat ini tren banyak warga yang menjual makanan, minuman, maupun frozen food demi menambah pendapatan.

Pandemi mendorong masyarakat tanah air untuk berbelanja melalui lokapasar. Tak ayal, tren penjualan barang melalui pasar digital terus melonjak.

Itu ditunjukkan data Bank Indonesia yang mencatat nilai penjualan empat lokapasar terbesar (Tokopedia, Shopee, Lazada, Bukalapak) di Indonesia. Pada Juni lalu, pendapatan mereka meningkat Rp 20,64 triliun dari Rp 20,08 triliun pada bulan sebelumnya.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebut dua sektor yang terdampak tren belanja daring tersebut. Yakni, konsumsi rumah tangga dan transportasi. Khususnya jasa antar pengiriman barang atau kurir.

Tren positif lokapasar menunjukkan bahwa digitalisasi mampu menolong para pengusaha maupun pelaku UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) untuk tetap berjualan di tengah wabah. Artinya, mampu beradaptasi dan berinovasi dari berjualan konvensional (offline) ke daring. Seiring dengan perubahan perilaku konsumsi atau belanja masyarakat.

 

Sumber:

https://www.jawapos.com/ekonomi/bisnis/17/08/2020/bisnis-rumahan-yang-muncul-akibat-pandemi-kerek-demand-jasa-pengiriman/

 


Back to List

16 Oct 2020

Kinerja Sektor Pergudangan Berjaya Akibat E-Commerce

Rinaldi Mohammad Azka, Bisnis.com, Kamis, 15 Oktober 2020

01 Oct 2020

Jasa Pengiriman Barang Raup Untung, Sampai Bisa Ekspansi

indopos.co.id Rabu, 30 September 2020

29 Sep 2020

Digitalisasi Jadi Kunci Bisnis Jasa Kurir saat Pandemi

Rinaldi Mohammad Azka, Bisnis.com, Senin 28 September 2020

28 Sep 2020

Jasa Pengiriman Makanan Tumbuh Paling Tinggi Selama Masa PSBB Pojok Bisnis

Zulfah Robbania, Pojoksatu.id, Minggu, 27 September 2020

28 Sep 2020

Asosiasi Logistik Sebut Jasa Pengiriman Makanan Tumbuh Paling Tinggi

Jawapos.com, Sabtu, 26 September 2020

28 Sep 2020

Asosiasi Logistik Sebut Jasa Pengiriman Makanan Tumbuh Paling Tinggi

Jawapos.com, Sabtu, 26 September 2020

28 Sep 2020

Asosiasi Logistik Sebut Jasa Pengiriman Makanan Tumbuh Paling Tinggi

Jawapos.com, Sabtu, 26 September 2020

23 Sep 2020

Demi kelancaran, Asosiasi Logistik minta pemerintah tanggap mitigasi potensi banjir

Ridwan Nanda Mulyana, Kontan.co.id, Selasa 22 September 2020

15 Sep 2020

Jasa Pengiriman Makanan Bisa Melonjak saat PSBB di Jakarta

Anitana Widya Puspa, Bisnis.com, Senin 14 September 2020

11 Sep 2020

PSBB DKI Jilid II, Pengusaha Minta Pemerintah Perluas Stimulus untuk Cegah PHK

Francisca Christy Rosana, Tempo.co, Kamis, 10 September 2020

Copyright © 2015 Asosiasi Logistik Indonesia. All Rights Reserved