News Detail
Program Jokowi Butuh Modifikasi

Rinaldi M. Azka & Hendra Wibowo, Bisnis Indonesia, Senin 9 Maret 2020

Bisnis, JAKARTA – Pemerintah disarankan mengubah program Tol Laut dari pelayaran jarak jauh menjadi hub and spoke dengan menetapkan pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpan guna memperbanyak frekuensi kunjungan kapal.

Selama ini, program Tol Laut yang dicetuskan Presiden Joko Widodo (Jokowi) diarahkan melayari trayek panjang sehingga frekuensi singgah di pelabuhan jadi lama. Padahal, beberapa daerah di Indonesia timur membutuhkan pelayaran terjadwal yang lebih sering.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita menyatakan bahwa pola trayek Tol Laut memang perlu dirombak total karena tidak memberi manfaat berganda secara jangka panjang.

“Perlu dibuat model shuttle dengan hub and spoke sehingga kapal pelayaran rakyat juga mendapatkan andil untuk mengantarkan muatan dari hub ke pelabuhan-pelabuhan kecil di sekitarnya,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (8/3).

Kesalahan mendasar program Tol Laut, paparnya, tidak melibatkan pemerintah daerah [pemda]. Akibatnya, perekonomian di daerah yang dilalui Tol Laut juga tidak membaik meski sudah dilayari angkutan laut bersubsidi itu.

Menurutnya, pemda yang disinggahi mendapat fasilitas Tol Laut harus ikut aktif mengurangi biaya di darat, seperti biaya truk masuk pelabuhan, hingga biaya tenaga bongkar muat.

“Pungli [pungutan liar] harus nol dan pungutan-pungutan daerah juga nol. Kalau tidak memberikan komitmen ya, tidak perlu diberi fasilitas tol laut,” katanya.

Sebaliknya, Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyarankan agar pemda setempat memanfaatkan Tol Laut untuk mengangkut produk dan komoditas potensial daerahnya.

Selama ini, kekurangan muatan balik Tol Laut dari wilayah dengan pertumbuhan ekonomi rendah, terutama di wilayah Indonesia bagian timur, memicu inefisiensi transportasi laut.

Menurutnya, potensi muatan dari wilayah timur Indonesia antara lain berbagai komoditas perikanan, pertanian, dan perkebunan.

Untuk komoditas perikanan laut, paparnya, potensinya sekitar 12 juta ton per tahun pada 11 wilayah pengelolaan perikanan (WPP) yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk yang dilewati jalur Tol Laut.

Sejauh ini, konsumsi ikan terbanyak di Pulau Jawa, baik untuk masyarakat maupun industri. Dengan demikian , tegasnya, komoditas perikanan sangat berpotensi menjadi muatan balik Tol Laut.

 

KAPASITAS KAPAL

Untuk permasalahan biaya pengangkutan kontainer domestik yang mahal, Setijadi merekomendasikan peningkatan kapasitas kapal maupun armada moda transportasi lain untuk meningkatkan skala ekonomi.

“Upaya ini harus dilakukan dengan perbaikan sistem konsolidasi muatan antarwilayah dengan menggunakan sistem informasi yang andal,” tegasnya.

Dia mencontohkan pengiriman kontainer Jakarta – Hong Kong dengan kargo balikan Hong Kong – Jakarta sudah sekitar 50% - 60% dari kapasitas kapal. Di Indonesia kargo balikan Padang – Jakarta hanya sekitar 10% - 20%.

Selain itu, pengangkutan dari Jakarta ke Hong Kong menggunakan kapal berkapasitas di atas 5.000 TEU’s, sedangkan kapal yang digunakan dari Jakarta ke Padang hanya 2.000 TEU’s.

Masalah lain, produktivitas pelabuhan di Indonesia juga rendah dibandingkan dengan Hong Kong dengan 40 – 50 bph (box per hour).

Sementara itu, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub Wisnu Handoko menyatakan bahwa ada enam langkah yang dilakukan Kemenhub guna memperbaiki kinerja Tol Laut. “Pertama, aspek kapal dengan terus memperbaiki manajemen pengoperasian kapal untuk menjaga ketepatan waktu sesuai target pelayaran,” katanya.

Kedua, meningkatkan pengawasan dan memberi sanksi tegas terhadap pelaku usaha yang terbukti monopoli Tol Laut.

Ketiga, memperbaiki logistics communication system (LCS) sebagai platform utama untuk mengawasi komoditas barang pokok dan penting yang diangkut.

Keempat, berkolaborasi dengan sistem perdagangan antarpulau. Kelima, mempercepat pemberlakuan standardisasi biaya di ekosistem pelayaran, pelabuhan, pergudangan, dan moda transportasi lainnya.

Terakhir (keenam), memprioritaskan pengembangan sarana dan prasarana pelabuhan penyangga program Tol Laut yang menunjukkan peningkatan thoughtput signifikan.

 

Sumber:

https://ekonomi.bisnis.com/read/20200308/98/1210475/tol-laut-program-gagal-tak-terselamatkan

 


Back to List

16 Apr 2021

Pengusaha Protes Kenaikan Tarif Pelabuhan Priok Saat Ekonomi Susah

Muhammad Idris, Kompas.com, Kamis 15 April 2021

15 Apr 2021

Tarif Layanan Pelabuhan Tanjung Priok Naik! Berlaku Besok

Anitana Widya Puspa, Bisnis.com, Rabu 14 April 2021

14 Apr 2021

Mahendra Rianto Resmi Jabat Ketua Umum ALI periode 2021-2026

Rahmi Yati, Bisnis.com, Selasa 13 April 2021

14 Apr 2021

Naik 39%, pelaku usaha keberatan dengan tarif baru di Pelabuhan Tanjung Priok

Venny Suryanto, Kontan.co.id, Selasa 13 April 2021

14 Apr 2021

Tarif Jasa Pelabuhan Tanjung Priok Naik, Pengusaha Pusing!

Emir Yanwardhana, Cnbcindonesia.com, Selasa 13 April 2021

05 Apr 2021

Vaksinasi Tumbuh Kembangkan Industri Rantai Pasok

Ipak Ayu, Bisnis.com, Minggu 04 April 2021 

05 Apr 2021

Jasa Pengiriman Meraup Untung di Momen Larangan Mudik Lebaran 2021

Menit.co.id, Sabtu 3 April 2021

30 Mar 2021

Menakar Dampak ke RI Akibat Macet di Terusan Suez

Herdi Alif Al Hikam, Detik.com, Senin 29 Maret 2021

24 Mar 2021

Jelang Idulfitri, Perusahaan Jasa Kurir Siap-Siap Raup Cuan

Anitana Widya Puspa, Bisnis.com, Selasa, 23 Maret 2021

Copyright © 2015 Asosiasi Logistik Indonesia. All Rights Reserved